Info

SEJARAH BERDIRINYA PERSEBAYA SURABAYA

PERSEBAYA SURABAYA


Nama Lengkap: Persatuan Sepakbola Surabaya
Julukan: Bajul Ijo (Buaya Hijau/ The Green Crocodile), Green Force
Berdiri: 18 Juni 1927
Stadion: Gelora Bung Tomo, Surabaya,  Indonesia (60.000 kapasitas)
Owner: Eddy Kusnadi Sariatmadja
Coach: Ibnu Grahan
Kelompok Suporter: Bonek, Yayasan Suporter Surabaya

Badan Hukum: PT.Persebaya Indonesia


SEJARAH

Persatuan Sepak bola Surabaya (disingkat Persebaya) adalah sebuah tim sepak bola Indonesia yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Persebaya berdiri pada 18 Juni 1927 oleh dua orang asli Surabaya bernama Paijo dan M.Pamoedji.
Pada masa awal berdiri, klub ini bukan bernama seperti yang kita kenal saat ini. Persebaya awalnya bernama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond atau disingkat SIVB.
Selain SIVB, di Surabaya ada klub sepakbola lain bernama Sorabaiasche Voetbal Bond(SVB). Klub tersebut didirikan pada tahun 1910, jauh lebih tua dari SIVB yang mana para pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.
Pada tanggal 19 April 1930, para klub-klub mulai membangun sebuah organisasi dan asosiasi sepakbola bertaraf Nasional yang mampu menjadi pengayom klub-klub pribumi serta untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan.
Oleh karena itu, Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond(SIVB) bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (cikal-bakal Persib), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Jogja) membentuk dan mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Pertemuan tersebut diadakan di Societeit Hadiprojo, Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut, SIVB diwakili oleh M.Pamoedji.
Setahun setelah resmi berdiri, PSSI mulai membuat sebuah kompetisi sepakbola resmi di Indonesia. Kompetisi tersebut adalah kompetisi tahunan antar kota/perserikatan yang wajib diikuti oleh para anggota PSSI.
Inilah cikal bakal kompetisi resmi atau Liga di Indonesia sampai saat ini.
Di tahun pertamanya, kompetisi perserikatan mempertemukan dua klub raksasa dari dua kota terbesar di Indonesia yakni SIVB (Surabaya) dan VIJ (Jakarta) di laga Final Perserikatan tahun 1938. Namun sayang, SIVB kalah dari VIJ.
Pada tahun 1942, pada zaman invasi Jepang ke Indonesia sekaligus menandakan kekalahan Belanda di Indonesia. Prestasi SIVB terbilang mentereng dan kembali mencapai final, saat itu skuad SIVB didominasi para pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa.
Namun sayang, lagi-lagi di laga puncak SIVB dikalahkan oleh VVB (Solo).
Pada tahun 1943, SIVB resmi berganti nama menjadi PERSIBAJA (Persatuan Sepakbola Indonesia Soerabaja) dan diketuai oleh Dr.Soewandi.
Dari pergantian nama inilah, prestasi Persibaja mulai moncer. Mulai dari meraih gelar juara di tahun 1950, 1951 dan 1952. Kala itu Persibaja mulai diperhitungkan dan menjadi salah satu klub besar yang cukup disegani lawan.
Pada tahun 1960, sejarah kembali mencatat pergantian nama klub sepakbola asal Surabaya ini. Persibaja resmi berganti nama menjadi PERSEBAYA (Persatuan Sepakbola Surabaya).
Pada era perserikatan, Persebaya berubah menjadi klub raksasa, kuat nan hebat. Tak hanya itu prestasi demi prestasi ditorehkan oleh klub berjuluk Bajul Ijo ini. Bersama PSMS Medan, PSM Makassar, Persib dan Persija, membentuk sebuah kwartet klub unggulan di Perserikatan waktu itu.
Di era Perserikatan, Persebaya berhasil dua kali menjuarai Liga yakni di tahun 1978 dan 1988 serta tujuh kali menjadi runner-up di tahun 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1987 dan 1990.
Prestasi tersebut terus dipertahankan sampai PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam satu wadah kompetisi bertajuk Ligina (Liga Indonesia) yang mulai bergulir sejak 1994.
Pada tahun 1997, Persebaya meraih gelar pertamanya di era Ligina waktu itu. Bahkan Persebaya adalah klub pertama dalam sejarah yang mampu meraih gelar juara dua kali berturut-turut.
Hal yang sama diulanginya di tahun 2005, Persebaya kembali meraih gelar juara dua kali berturut-turut. Meski menyandang nama besar sebagai tim tradisional nan klasik, Persebaya pernah menerima kenyataan pahitnya terdegradasi ke kasta kedua Liga Indonesia. Itu terjadi pada tahun 2002.
Namun hal itu tak berlangsung lama, karena Persebaya langsung membayar lunas kesetiaan pendukung yang selalu mendukung di saat klub sedang terpuruk dengan menjuarai Divisi I dan Divisi Utama kala itu.













PEMAIN-PEMAIN TERKENAL PERSEBAYA

Persebaya tak hanya dikenal sebagai klub besar yang disegani, tapi juga sebagai klub yang rajin menyumbangkan pemain-pemain hebatnya untuk TimNas Indonesia dari lever junior sampai level senior.
Beberapa nama beken dari Persebaya yang selalu menjadi langganan timnas meliputi Rudy Keltjes, Didiek Nurhadi, Abdul Kadir, Rusdy Bahalwan, Riono Asnan, Soebodro, Yusuf Ekodono, Syamsul Arifin, Subangkit, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf, Eri Erianto, Hendro Kartiko, Uston Nawawi, Chairil Anwar, Aji Santoso, I Putu Gede, Yeyen Tumena, Rahel Tuassalamony, dan Mursyid Effendi merupakan bagian pemain timnas pada masanya serta didikan asli Persebaya. Tak hanya pemain lokal, Persebaya juga memiliki beberapa pemain asing andalan seperti Jacksen F.Thiago, Carlos de Mello, Anthony Jommah Ballah dan Danilo Fernando.
Selain itu juga ada nama Kurniawan Dwi Yulianto, Nova Arianto, Mat Halil, Kurnia Sandi, Andik Vermansyah, M.Taufiq, Rendy Irawan, Danilo Fernando, Evan Dimas, dan masih banyak lagi.









Namun dari sekian banyak pemain hebat Persebaya, ada satu pemain yang masih cukup dikenang dalam benak pendukung Persebaya. Dia adalah Eri Erianto, pemain timnas dan Persebaya era 90-an.
Saat itu pertandingan Persebaya menghadapi PSIM Yogyakarta dalam lanjutan Divisi Utama Liga Indonesia 1999-00, sebuah tragedi terjadi. Eri Erianto terjatuh tak sadarkan diri di lapangan, ia akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Namun takdir berkata lain, Eri menghembuskan nafas terakhirnya di malam hari pada tanggal 3 April 2000.
Sebagai penghormatan atas jasa-jasa Eri untuk Persebaya, namanya diabadikan menjadi nama sebuah Mess/Wisma bagi pemain-pemain Persebaya yang diresmikan pada tanggal 25 April 1993.




KISAH KONTROVERSIAL

Bukan Persebaya namanya jika tidak melakukan hal-hal yang berbau kontroversi. Dalam beberapa kesempatan, Persebaya pernah melakukan hal-hal yang menimbulkan kontroversi.
Salah satunya adalah saat menjuarai Kompetisi Perserikatan di tahun 1988, Persebaya diduga mempraktekkan pertandingan yang cukup terkenal dengan istilah “Sepakbola Gajah” dengan mengalah atas Persipura dengan skor yang sangat mencolok 0-12.
Ini dilakukan guna menyingkirkan kompetitor mereka yakni PSIS Semarang yang pada tahun sebelumnya mengubur impian Persebaya menjuarai Final Kompetisi Perserikatan. Taktik “busuk” ini membawa hasil dan Persebaya akhirnya berhasil keluar sebagai juara perserikatan dengan mengalahkan PSMS 3-1 di final pada tahun 1988.
Tak hanya sekali, di tahun 2002 Persebaya kembali menjadi sorotan. Pada pertandingan lanjutan Liga Indonesia, Persebaya melakukan aksi mogok bertanding saat menghadapi PKT Bontang. Akibat ulahnya tersebut, Persebaya mendapat skors alias hukuman yakni pengurangan poin. Dari kejadian tersebut jugalah yang menjadi penyebab terlemparnya Persebaya dari Liga Indonesia.
Tiga tahun berselang yakni pada tahun 2005, Persebaya kembali menggemparkan publik sepakbola Indonesia. Bukan dari segi prestasi, melainkan dari segi kontroversi.
Persebaya secara tiba-tiba mengundurkan diri dari babak delapan besar Liga Indonesia, yang akhirnya memaksa panitia penyelenggara Liga memberinya hukuman larangan mengikuti kompetisi selama 16 bulan.
Merasa hukuman yang diberi terlalu berat, Persebaya mengajukan banding. Dan akhirnya skorsing direvisi, Persebaya diharuskan turun kasta ke Divisi I Liga Indonesia.


PERPECAHAN DI TUBUH PERSEBAYA

Beberapa tahun berlalu, banyak kejadian-kejadian yang terjadi di dalam tubuh Persebaya. Mulai dari seretnya prestasi dan akhirnya berujung pada perpecahan di klub sebesar Persebaya.
Ya, pada tahun 2010 publik diguncangkan dengan kabar terpecahnya Persebaya Surabaya. Kubu pertama adalah Persebaya di bawah manajemen Saleh Ismail Mukadar yang mengikuti Liga Primer Indonesia(LPI) dengan nama PERSEBAYA 1927 dan kubu kedua dibawah naungan Wisnu Wardhana yang tetap memakai nama PERSEBAYA dan mengikuti PSSI dan Liga Indonesia (Divisi Utama). Dua kubu saling klaim sebagai pemilik nama Persebaya yang sah di mata hukum.
Sebagai pengelola konsorsium klub, PT. Persebaya Indonesia didapuk sebagai pengelola yang sah dengan diketuai oleh Llano Mahardika. Meski begitu, hal ini tetap menimbulkan polemik di kalangan suporter dan masyarakat Surabaya.
Pada tahun 2011, bola panas perseteruan dua kubu tersebut masih berlanjut. Kali ini PSSI yang membuat konflik kian meruncing, PSSI menyatakan kompetisi ISL dan Divisi Utama yang dikelola PT.LPIS dan PT.Liga Indonesia adalah ilegal! Dan menyatakan Liga Primer Indonesia sebagai Liga Nasional yang legal dan resmi, dalam hal ini Persebaya 1927 adalah resmi karena bernaung di bawah bendera LPI.
Meski dinyatakan legal, Saleh Mukadar enggan mengganti nama Persebaya yang penuh sejarah itu, ia tetap memakai nama Persebaya 1927. Sedangkan kubu Persebaya versi Wisnu Wardhana juga tetap menggunakan nama Persebaya Surabaya dan tetap mengikuti kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia.
Pada tahun 2012 menjadi tahun yang buruk bagi kedua Persebaya tersebut. Bagaimana tidak, Persebaya 1927 gagal meraih juara IPL yang pada saat itu dimenangkan oleh Semen Padang FC. Sedangkan Persebaya Divisi Utama gagal promosi alias naik kasta ke ISL 2013.
Atas alasan inilah, di akhir kompetisi Divisi Utama 2012 manajemen melakukan evaluasi secara menyeluruh.
Seluruh jajaran direksi klub Persebaya mengadakan rapat dengan hasil  pergantian di kursi Ketua Umum Persebaya. Dalam hal ini, tampuk kepemimpinan Persebaya berganti dari Wisnu Wardana ke Diar Kusuma
Putra. Sekaligus badan hukum yang selama ini memayungi Persebaya pun diganti menjadi PT.Mitra Muda Inti Berlian (gabungan para pengusaha-pengusaha muda asli Surabaya).
Pada tahun 2013, PSSI yang saat itu juga terbelah menjadi dua kubu melakukan Kongres Luar Biasa (KLB) pada tanggal 17 Maret 2013. Kedua kubu tersebut (Kubu KPSI versi La Nyalla Mattalitti dan kubu PSSI versi Djohar Arifin) sepakat bersatu demi kelangsungan sepakbola Indonesia. PSSI menyatakan LPI ilegal dan akhirnya memutuskan Persebaya Divisi Utama sebagai anggota PSSI yang sah dan diakui keberadaannya. Dengan kata lain, ini berimbas juga dengan Persebaya 1927 yang akhirnya dinyatakan ilegal dan sebagai anggota tidak sah.
Hal ini dipertegas dengan keputusan kongres PSSI pada tanggal 17 Mei 2013.
Seperti mendapat angin segar, prestasi Persebaya pun ikutan moncer. Pada Divisi Utama Liga Indonesia 2013, Persebaya Surabaya keluar sebagai juara liga dan berhak promosi ke Indonesia Super League musim 2014.
Pada tahun 2014, Persebaya kembali ke habitat aslinya yaitu liga kasta teratas Indonesia, Indonesia Super League (ISL). Dengan amunisi yang terbilang “Dream Team” karena diisi pemain-pemain berkelas  Persebaya mengarungi kerasnya ISL dengan cukup percaya diri.
Namun deretan pemain mentereng tak menjamin prestasi bagi Persebaya, Persebaya terseok-seok di papan tengah klasemen. Sulit bersaing dengan klub-klub yang lebih matang dan sehat dalam hal manajemen dan keuangan seperti Persib, Sriwijaya FC, Arema, Persipura dan klub-klub asal Kalimantan. Dan akhirnya bisa ditebak, di akhir musim kompetisi Persebaya gagal menjuarai ISL 2014.
Tahun 2015 Persebaya mengapungkan asa setinggi-tingginya, demi meraih hasil terbaik di ISL 2015. Namun sayang, prahara menimpa sepakbola Indonesia.
Induk sepakbola dunia, FIFA membekukan PSSI. Imbasnya klub-klub yang bernaung di bawah bendera PSSI-pun ikut terkena dampak pembekuan tersebut. Liga dibekukan, para pemain dan pelaku sepakbola Indonesia menjadi korbannya. Tak hanya klub sepakbola, hal tersebut juga berdampak pada timnas Indonesia yang juga dilarang melakukan aktifitas Internasionalnya yang berhubungan dengan FIFA. Dengan kata lain, sepakbola Indonesia disegel dari persepakbolaan Internasional.
Saat ini Persebaya sedang mengikuti turnamen nasional di luar agenda FIFA, yakni Piala Jendral Sudirman dengan nama Surabaya United.



SUPORTER

Mendengar nama Bonek apa yang terlintas dalam benak anda? Suporter militan dengan fanatisme yang luar biasa? Atau suporter yang selalu ada dimanapun Persebaya bertanding Atau suporter yang identik dengan kekerasan? Eittss....jangan berasumsi terlalu jauh dulu, bisa-bisa anda di bully oleh fans Persebaya.
Istilah BONEK adalah akronim dari bahasa jawa yang berarti Bondho Nekat (Modal Nekat). Nama ini pertama kali dimunculkan oleh sebuah surat kabar Harian Pagi, JAWA POS pada tahun 1989.
Dalam hal ini, menggambarkan suatu fenomena suporter Surabaya yang datang berbondong-bondong dalam jumlah yang luar biasa besar meski dengan modal seadanya alias modal cekak atau nekat. Dalam sejarahnya, BONEK adalah suporter pertama di Indonesia yang memperkenalkan away supporters layaknya pendukung klub di Eropa.
Namun dalam perkembangannya, kebiasaan ini juga kerap menimbulkan sisi negatif dari Bonek. Mereka sering terganjal aksi kekerasan antar suporter lawan. Namun tidak ada yang tahu asal-usul yang pasti terkait radikal dan anarkisnya Bonek.
Bonek adalah pelopor “gerakan tret-tet-tet ke Senayan Jakarta medio 1986-87 silam.


Waktu itu, Bonek pergi ke Senayan dengan mengenakan baju kebesaran mereka berupa kaos warna hijau dengan gambar atau logo Wong Mangap (orang berteriak penuh semangat dan keberanian). Waktu itu, Jawa Pos membuat ribuan kaos dengan desain Wong Mangap, dan dijual dengan harga yang relatif murah yakni Cuma Rp.1000 per kaos.
Pendek kata, Senayan dihijaukan oleh arek-arek Suroboyo. Mereka membentangkan spanduk raksasa yang digantung di atas tribun timur dan barat. Luar biasa! Sayang, di final Persebaya kalah 0-1 oleh PSIS Semarang. Namun, semuanya berjalan tertib, tidak ada kerusuhan apa pun.
Itulah sebabnya Pak Dahlan Iskan, waktu itu masih Pemimpin Redaksi Jawa Pos, mengundang para tokoh sepak bola Surabaya untuk merumuskan solusi kebangkitan kembali Persebaya. Bang Moh – sapaan akrab Mohammad Barmen, Pak Tiyanto Saputra dan tokoh-tokoh lainnya sarasehan di ruang redaksi Jawa Pos, di lantai 2 Kantor Jawa Pos di Jalan Kembang Jepun. Setelah itu Pak Dahlan pergi ke Inggris untuk mengamati Premier League Inggris, termasuk perilaku para suporternya. Sepulang dari Inggris itulah ide tret-tet-tet dengan kaos kebesaran dan slayer suporter Green Force Persebaya muncul!
Logo Wong Mangap kali pertama diciptakan oleh Mister Muhtar, desainer grafis Jawa Pos. Loga pertama bercorak ekspresionis. Kemudian diubah pada musim kompetisi 1988/1989 dengan Wong Mangap bercorak naturalis seperti yang kita lihat sampai sekarang. Dan, sejak itu pula julukan Bonek dilansir oleh redaktur olahraga Jawa Pos.
Istilah Bonek, seperti yang kami singgung dalam tulisan sebelumnya, dimaksudkan untuk mewarisi karakter pejuang nan pemberani dan pantang menyerah dari kakek moyang arek-arek Suroboyo pada tahun 1945. Peristiwa heroik dan bersejarah yang melahirkan Hari Pahlawan 10 Nopember! Semangat berani karena benar, pantang menyerah, tali duk tali layangan, awak situk ilang-ilangan itulah yang harus menitis dalam jiwa dan perilaku Bonek sepanjang zaman!
Bahwa dalam perjalanannya terjadi berbagai kerusuhan yang disebabkan oleh ulah Bonek, sungguh hal ini sangat memprihatinkan bagi seluruh warga Surabaya. Karena itu, sekarang bukalah lembaran sejarah baru: Bonek yang pro fair play, yang cinta damai, anti anarkisme, dan pembela sejati Green Force Persebaya! Itu tadi secuil flash back perjalanan sejarah Bonek. Kedua, kami melihat adanya ketidakadilan dari perlakuan media massa terhadap Bonek.









Awal Permusuhan Bonek-Aremania

Semifinal Galatama tahun 1992 yang mempertandingkan PS Arema Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya menghadirkan awalan baru sejarah konflik Aremania-Bonek.
Arek Malang (saat itu belum bernama Aremania) membuat ulah di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema Malang dari Semen Padang.
Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat panas Bonek yang ada di Surabaya. Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan melawat ke Gresik.
Semenjak itulah tidak ada kata damai dari Bonek kepada Aremania, dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan sekalipun.
Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya menandatangi nota kesepakatan bahwa masing-masing kelompok suporter tidak akan hadir ke kandang lawan dalam laga yang mempertemukan Arema dan Persebaya.
Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim bersama kedua pemimpinkelompok suporter tersebut ditandatangani di Kantor Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun 1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam  pertandingan yang mempertemukan kedua klub kesayangan masing-masing.
Tetapi nota kesepakatan itu tidak mampu meredam konflik keduanya. Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua kelompok suporter ini.
Kala itu pertandingan antara tuan rumah Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu berterbangan dari luar stadion menyerang tribun yang diduduki oleh Aremania.
Kondisi ini membuat Arema meminta kepada panpel untuk mengamankan wilayah luar stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke  lapangan, sementara di luar stadion justru terjadi gesekan antara Bonek  dengan aparat.
Turunnya Aremania ke lapangan pertandingan membuat pertandingan dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek membuat Aremania membantu aparat dengan memberikan lemparan balasan ke arah Bonek. Aremania pun harus dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk dari kepolisian.
Kini, tumbuh lapisan baru arek-arek muda Bonek yang gencar melakukan gerakan pencerahan. Mereka berjuang keras menegakkan kedamaian. Bahkan arek-arek Bonek Jakarta dan Jogja kini sedang membuat sebuah Buku Sejarah Bonek. Fajar Junaedy dari Jogja juga membuat VCD Sejarah Bonek. Dia telah mewawancarai pencipta logo Wong Mangap, yaitu Mister Muhtar dan Budiono, termasuk kami sendiri dan beberapa saksi sejarah tret-tet-tet 1986/1987. Mereka adalah anak-anak muda intelek, kreatif, mempelajari berbagai pengetahuan tentang sepak bola dengan rajin membuka situs. Mereka berdebat dengan rasional dan dengan hati yang dingin. Semoga gerakan pencerahan arek-arek Bonek ini menemukan puncak yang gemilang. 
Hal ini ditandai dengan semakin ramah dan sportifnya arek-arek Bonek di mana pun berada. Perlu diingat, soal kerusuhan suporter bukan hanya Bonek yang melakukan. Berbagai fakta menjadi bukti. Kubu-kubu suporter lain pun melakukan kerusuhan. Mungkin lebih tepat disebut oknum-oknum, bukan kubu suporter secara keseluruhan. Bahkan suporter di negara yang maju dan menjadi nenek moyangnya sepak bola pun, kerusuhan suporter masih saja ada. Semoga pejuangan lapisan muda intelektual Bonek itu menuai hasil gemilang.
Dan semoga permusuhan antara Bonek dan Aremania segera selesai, karena perdamaian itu indah. Amin.....



Demikian sedikit cerita dan kisah perjalanan sebuah klub dengan nama besar sekelas Persebaya. Semoga menambah wawasan tentang klub kesayangan anda. Ada kiranya penulis meminta maaf jika ada kesalahan nama ataupun cerita karena keterbatasan informasi yang dimiliki.
Terimakasih telah berkunjung ke blog saya, Wassalam.....

3 Responses to "SEJARAH BERDIRINYA PERSEBAYA SURABAYA"

  1. Yuk Gabung Bersama Kami Hanya di RoyalQQ

    Minimal Deposit Hanya Rp 15.000

    RoyalQQ juga membagikan BONUS 0.5% TANPA SYARAT SETIAP HARINYA!

    Yuk daftar sekarang juga, rasakan sensasi bermain bersama kami hanya di RoyalQQ

    Link : https://goo.gl/dQPyud

    ReplyDelete
  2. great info guys, thanks for share about that. nice blog.
    Persebaya Surabaya
    http://www.teampersebayasurabaya1927.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. bolavita.pw kerja sama untuk pasaran bola asian games 2018

    melihat skor bola asianbookie
    membaca pasaran olahraga asianbookie bandar

    http://agenpialadunia2018-blog.logdown.com/posts/7805161-pasaran-asianbookie-asian-games-2018-jakarta-palembang

    ReplyDelete